Cari Blog Ini

Site Links

About

Featured Posts

Featured Posts

Featured Posts

Site Links

Rabu, 15 Mei 2019

Review Film Dune


Menambang Rempah dalam Film Dune

Setiap sutradara dan produser film pasti ingin film yang dibuat dan diproduksinya menjadi film laris dan masuk jajaran Box Office serta disambut positif oleh khalayak ramai dan kritikus film. Banyak film yang sebelum perilisannya diprediksi akan meraih Box Office dan menuai banyak keuntungan tetapi setelah penayangannya film tersebut justru tidak sesuai dengan harapan dan menuai banyak kritik. Jika ada yang bertanya kepada saya film tahun 1980-an apa yang diprediksi akan ‘meledak’ tetapi pada kenyataannya gagal total di pasaran. Sebagai pecinta film bergenre fiksi ilmiah atau science fiction saya akan menjawab film Dune. Film ini disutradarai oleh David Lynch, yang juga menyutradarai film Blue Velvet dan Mulholland Drive, dan diproduksi oleh Dino De Laurentiis Corporation serta dirilis oleh Universal Pictures. Film yang dirilis pada tahun 1984 ini diadaptasi dari seri pertama franchise novel fiksi ilmiah terlaris sepanjang masa yang berjudul sama, Dune, karya Frank Herbert.

Image result for dune movie 1984

Film ini dibintangi sederet aktor dan aktris terkenal pada zamannya. Tokoh Lady Jessica diperankan oleh aktris asal Inggris, Francesca Annis, yang juga berperan dalam film King of Thieves. Tokoh Duke Leto Atreides diperankan oleh aktor asal Jerman, Jรผrgen Prochnow, yang juga tampil dalam film The English Patient dan The Da Vinci Code. Tokoh Paul Atreides diperankan oleh aktor Kyle MacLachlan, yang juga membintangi film The Flinstones dan menjadi pengisi suara di film Inside Out. Tokoh Padishah Emperor Shaddam IV diperankan oleh mendiang aktor asal Puerto Rico, Josรฉ Ferrer. Tokoh Baron Vladimir Harkonnen diperankan oleh mendiang aktor Kenneth McMillan. Tokoh Reverend Mother Gaius Helen Mohiam diperankan oleh aktris asal Wales, Siรขn Phillips. Tokoh Gurney Halleck diperankan oleh aktor Inggris Patrick Stewart, yang juga membintangi franchise film Star Trek dan X-Men. Tokoh Chani diperankan oleh aktris Sean Young, yang juga berperan di film Blade Runner dan Dr. Jekyll and Ms. Hyde. Tokoh Thufir Hawat diperankan oleh aktor asal Inggris, Freddie Jones. Tokoh Feyd-Rautha diperankan oleh vokalis dan basis band The Police asal Inggris, Sting, yang juga membintangi film Plenty dan Lock, Stock and Two Smoking Barrels. Tokoh Doctor Wellington Yueh diperankan oleh aktor Dean Stockwell, yang juga bermain dalam film The Mighty McGurk dan Air Force One. Tokoh Piter De Vries diperankan oleh aktor Brad Dourif, yang juga berperan dalam franchise film Chucky, Child’s Play, dan film Halloween. Tokoh Stilgar diperankan oleh aktor Everett McGill. Tokoh Glossu ‘Beast’ Rabban diperankan oleh aktor Paul Smith, yang juga tampil dalam film Red Sonja. Tokoh Princess Irulan diperankan oleh aktris Virginia Madsen, yang juga berperan dalam film Candyman dan The Haunting in Connecticut. Tokoh Alia Atreides diperankan oleh aktris Alicia Witt, yang juga tampil dalam film Two Weeks Notice. Sebenarnya masih banyak lagi aktor dan aktris yang belum disebutkan di sini karena akan terlalu panjang jika disebutkan satu per satu.

Related image

Dikisahkan dalam prolog di film ini bahwa pada tahun 6041 kecerdasan buatan (artificial intelligence), komputer dan mesin mengatur seluruh aspek kehidupan manusia sampai akhirnya manusia diperbudak oleh kecerdasan buatan tersebut. Manusia kemudian melakukan pemberontakan dan memusnahkan semua kecerdasan buatan, komputer, robot, serta mesin yang mengatur kehidupan mereka (saya jadi teringat dengan franchise film Terminator ๐Ÿ˜Š). Setelah kejadian ini manusia mulai mengembangkan kekuatan pikiran serta pengetahuan matematika mereka untuk berkembang dan melarang seluruh penggunaan kecerdasan buatan. Ada dua kelompok besar yang memiliki kekuatan super setelah kejadian itu; perkumpulan (sekte) selir perempuan Bene Gesserit yang dapat membaca pikiran manusia dan mampu berkomunikasi dengan telepati, dan juga pemandu atau navigator perjalanan galaksi (The Galactic Spacing Guild) atau lebih dikenal dengan The Guild yang memiliki kemampuan melakukan perjalanan antar bintang dan galaksi tanpa harus berpindah tempat. Dengan kemampuan ini, The Guild mengatur dan memonopoli perjalanan luar angkasa antar galaksi. Ini semua bisa dilakukan berkat rempah (spice) bernama Melange yang hanya ada di planet Arrakis yang juga dikenal dengan planet Dune. Dengan paparan dan mengonsumsi rempah tersebut manusia dapat berumur panjang, melihat masa depan, membaca pikiran orang lain, meningkatkan kekuatan fisik, serta mampu membengkokkan ruang dan melakukan perjalanan antar bintang dan galaksi tanpa berpindah tempat seperti yang dilakukan oleh The Guild. Maka dari itu rempah Melange menjadi komoditas yang paling berharga di alam jagat raya dan banyak pihak yang ingin menguasainya.

Pada tahun 10.191 (ya, tahun sudah mencapai lima digit angka!) galaksi dikuasai oleh (Kaisar) Padishah Emperor Shaddam IV. Ada empat planet dalam cerita di film ini. Masing-masing planet dikuasai oleh penguasa feodal. Padishah Emperor Shaddam IV dan anak perempuannya Princess Irulan serta pemimpin perkumpulan/sekte selir perempuan Bene Gesserit, Reverend Mother Gaius Helen Mohiam, menguasai planet Kaitain, Keluarga Atreides menguasai planet Caladan, Keluarga Harkonnen menguasai planet Giedi Prime, dan penduduk asli setempat yang disebut dengan Fremen menghuni planet Arrakis atau dikenal juga dengan planet Dune. Di planet Kaitain, atas perintah The Guild, Shaddam menyusun rencana jahat dengan Gaius Helen Mohiam untuk menyingkirkan Duke Leto Atreides dan anaknya, Paul Atreides, dengan memerintahkan mereka untuk menduduki planet Arrakis (Dune) untuk mengambil alih penambangan rempah Melange dari tangan Baron Vladimir Harkonnen. Kemudian Shaddam menyuruh Baron Vladimir Harkonnen untuk menyerang dan menghabisi keluarga Atreides untuk selanjutnya Shaddam menguasai penambangan rempah di planet tersebut. Dengan kata lain Shaddam memanfaatkan ketegangan dan mengadu domba antara Harkonnen dan Atreides karena pada saat itu Harkonnen dan Atreides adalah dua musuh besar yang saling bersaing.



Sementara itu di planet Caladan, keluarga Atreides yang dikepalai oleh Duke Leto Atreides berkuasa bersama selirnya, Lady Jessica, dan putranya, Paul Atreides. Mereka didampingi oleh pembantunya yaitu Thufir Hawat, Doctor Wellington Yueh, dan Gurney Helleck. Paul adalah anak dari Duke Leto dengan Lady Jessica, seorang selir dari sekte Bene Gesserit. Lady Jessica menentang peraturan perkumpulan Bene Gesserit yang mengharuskan pengikut dan anggotanya melahirkan keturunan perempuan. Para anggota perkumpulan Bene Gesserit memiliki kekuatan untuk menentukan jenis kelamin anak yang sedang mereka kandung. Tetapi atas keinginan Duke Leto, Lady Jessica melahirkan anak laki-laki yaitu Paul. Sebagai seorang anak penguasa planet Caladan yang sudah dewasa, Paul harus mengikuti serangkaian latihan fisik bela diri yang dilakukan oleh Gurney Halleck. Gaius Helen Mohiam juga datang dari planet Kaitain ke planet Caladan untuk menguji Paul. Dia ingin mengetahui apakah Paul dapat diperalatnya atau tidak. Helen Mohiam juga ingin mengetahui apakah Paul memiliki kekuatan yang sama dengan anggota perkumpulan selir Bene Gesserit atau tidak dan ternyata Paul memiliki kekuatan tersebut. Helen Mohiam dapat melihat bahwa Paul adalah seorang messiah (Kwisatz Haderach) yang kedatangannya sudah diramalkan oleh kaum Fremen di planet Arrakis.

Planet Arrakis adalah planet gurun tempat rempah Melange ditambang. Menambang rempah Melange adalah suatu hal yang sangat berbahaya karena rempah tersebut dijaga oleh mahluk cacing pasir berukuran raksasa yang buas (Shai-Hulud) dan peka terhadap getaran di permukaan pasir. Cacing raksasa tersebut hidup di dalam gurun pasir dan akan muncul ke permukaan untuk memangsa siapa saja yang berusaha mengambil rempah di planet tersebut. Keluarga Atreides datang bersama dengan para pembantu dan pasukannya ke planet Arrakis tempat mereka menguasai pertambangan rempah Melange. Paparan rempah Melange membuat mata manusia menjadi bersinar biru seperti mata kaum Fremen. Kedamaian tidak berlangsung lama karena Baron Vladimir Harkonnen datang menyerbu untuk merebut planet Arrakis. Dia datang dengan dua orang keponakannya, Feyd-Rautha dan Glossu Rabban, dan juga pembantunya, Piter De Vries, dan juga dibantu oleh pasukan Shaddam. Duke Leto terbunuh dalam kejadian ini sedangkan Paul dan Lady Jessica berhasil melarikan diri ke tempat kaum Fremen di pedalaman dan mereka diterima oleh Stilgar, pemimpin kaum Fremen. Di sini Paul bertemu dengan Chani, seorang perempuan dari kaum Fremen dan mereka saling jatuh cinta. Ternyata Lady Jessica sedang dalam keadaan mengandung dan akhirnya dia melahirkan anak perempuan dari Duke Leto yang diberi nama AliaPaul dan kaum Fremen berusaha menghentikan penambangan rempah Melange dengan menyabotase kendaraan penambang rempah yang sekarang dikuasai oleh Shaddam melalui tangan Harkonnen sehingga produksi rempah Melange menjadi terhambat. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Dapatkah Paul melakukan balas dendam terhadap apa yang dilakukan Harkonnen atas perintah Shaddam terhadap ayahnya, Duke Leto? Siapakah yang akan membalaskan dendam tersebut? Dapatkah Paul mengambil alih kekuasaan Harkonnen di planet Arrakis? Untuk mengetahuinya silakan kamu menonton filmnya atau membaca novelnya.

Related image

Sinematografi, visual efek, dan desain produksi di film ini nampaknya jauh dari kata sempurna dan bisa dibilang sangat jelek. Saya menggunakan kata ‘jelek’ karena memang sinematografi film ini sangat mengecewakan untuk sebuah film berbiaya besar. Melihat sinematografi dan spesial efek di film ini bagaikan melihat film-film lawas tahun 1950-an dan 1960-an dan bahkan terkesan seperti film kelas B (B-movie). Nuansa gelap dan kelam kerap menyelimuti pemandangan di film ini. Melihat spesial efek dan visual efek yang ada di film ini seperti melihat spesial efek dan visual efek yang ada di film kartun untuk anak-anak. Peralatan pendukung yang ada di film ini pun juga terkesan jauh dari futuristik. Kendaraan yang ada di planet Arrakis beserta interiornya juga malah terkesan seperti kendaraan dari jaman dahulu. Walaupun begitu penggambaran pesawat/kendaraan luar angkasa yang digunakan The Guild untuk memandu perjalanan antar galaksi sudah lumayan bagus, tetapi tetap saja terlihat seperti film kartun untuk anak-anak. Hal ini mungkin dikarenakan oleh teknologi untuk visual efek dan CGI masih belum berkembang di tahun 1980-an seperti zaman sekarang. Tetapi hal tersebut juga bukan menjadi pembenaran untuk spesial efek dan sinematografi yang tidak bagus.

Desain kostum yang digunakan para tokoh wanita di film ini pada beberapa adegan seperti busana dari abad ke-17 dan 18 atau dengan kata lain bergaya retro yang dapat kita lihat pada saat para tokoh berada di dalam ruangan istana. Saya tidak akan berkomentar mengenai hal ini karena perkembangan busana dan pakaian sering kali kembali ke gaya busana di masa lalu dan mungkin saja gaya berbusana para tokoh di film ini adalah gaya busana yang sekarang kita anggap kuno tetapi menjadi trend kembali di masa yang akan datang. Lalu untuk pakaian pasukan Shaddam yang menyerang planet Arrakis terkesan seperti baju anti bio-hazard dari zaman sekarang dan tidak terkesan futuristik. Sementara itu pakaian pelindung yang dipakai oleh para tokoh di film ini (yang digunakan oleh kaum Fremen) untuk menjelajahi planet Arrakis terlihat cukup kompak dan pas dengan tubuh pemakainya. Pakaian tersebut berwarna gelap dan dilengkapi dengan alat pernafasan yang dihubungkan ke hidung pemakainya dan pakaian tersebut diceritakan mampu memproses kotoran yang dikeluarkan pemakainya. Kemudian penggambaran The Guild di film ini juga bisa dibilang lumayan. Kesan menakutkan sekaligus menjijikkan dapat kita rasakan ketika melihat mahluk tersebut. Mahluk The Guild terlihat seperti kacang tanah! Padahal mahluk tersebut adalah manusia yang bermutasi karena paparan rempah Melange. Efek suara, musik, dan soundtrack di film Dune bisa dibilang lumayan walaupun tidak bisa dibilang bagus. Hal ini ditunjang dengan bantuan musisi grup band Toto yang menciptakan musik dan soundtrack untuk film ini.



Menyaksikan akting para pemain film ini bagaikan menyaksikan akting para pemain teater yang sedang beraksi di panggung. Saya tidak akan menyebut gaya akting seperti ini jelek. Karena justru dengan gaya akting seperti ini bisa menambah kesan ‘besar’ dan ‘megah’ dan dapat mengeluarkan nuansa epik dan kolosal  film ini. Melihat akting para aktor dan aktris di film ini bagaikan melihat film-film kolosal lawas sebelum tahun 1960-an yang berbeda dengan film-film zaman sekarang yang akting para pemain filmnya lebih natural dan tidak dibuat-buat. Walaupun akting para pemain di film ini terkesan teatrikal, tetapi kesan hampa dan tanpa penghayatan masih dapat kita rasakan. Karakter dan penokohan di film ini bisa dibilang biasa saja dan sebagian besar kurang menonjol. Hanya karakter Baron Vladimir Harkonnenlah yang berkesan untuk saya dan terkenang dalam ingatan saya setelah saya menonton film ini. Mendiang aktor Kenneth McMillan sukses memerankan tokoh berkarakter antagonis yang bersemangat dan berapi-api. Dengan suara teriakannya yang keras dan bersemangat serta melayang ke sana kemari membuat saya terkadang tersenyum dan tertawa ketika tokoh Harkonnen muncul di suatu adegan. Seakan terpancar keceriaan di mata tokoh tersebut bagaikan seorang anak kecil.

Jika berbicara mengenai film fiksi ilmiah yang sukses di tahun 1980-an pasti kita akan teringat film-film seperti Star Wars Episode V: The Empire Strikes Back (1980), Star Wars Episode VI: Return of The Jedi (1983), Blade Runner (1982), dan Aliens (1986). Mengapa demikian? Karena film-film tersebut adalah film yang bagus dan setidaknya mampu mencapai ekspektasi sutradara, produser, penonton, maupun kritikus film. Lalu bagaimana dengan film Dune yang merupakan sesama film fiksi ilmiah berbiaya besar? Apakah mungkin dikarenakan cerita di film ini merupakan adaptasi dari sebuah novel dan berseting jauh di masa depan? Menggarap film yang diangkat dari buku atau novel itu tidak sepenuhnya mudah. Mudahnya adalah produser, sutradara, dan/atau penulis naskah tidak perlu susah payah lagi untuk memikirkan ide dan jalan cerita serta karakter dan penokohan karena semua bahan sudah tersedia di dalam cerita buku atau novel yang akan diadaptasi. Sedangkan kesulitannya adalah bagaimana caranya agar ide cerita yang terdapat di dalam buku atau novel tersebut bisa divisualisasikan dengan sempurna dan sesuai dengan ekspektasi para penonton terutama para penonton yang sudah membaca buku atau novelnya. Sudah menjadi bahan perbincangan di kalangan sastrawan, akademisi, dan publik bahwa interpretasi setiap pembaca terhadap suatu buku atau novel itu berbeda-beda, tergantung dari pengalaman, imajinasi, dan fantasi masing-masing pembacanya. Hal inilah yang menjadikan visualisasi dalam film Dune ini seakan-akan menjadi hak prerogatif sang produser, sutradara dan penulis naskah untuk memvisualisasikan adegan di dalam novel menjadi sebuah film dan hal inilah yang mungkin tidak sesuai dengan interpretasi dan ekspektasi para penonton yang sudah membaca novelnya ditambah dengan sinematografi, visual efek, dan desain produksi yang tidak memukau di film ini.

Related image

Awalnya film ini dibuat untuk menyaingi kejayaan trilogi film Star Wars. Rencananya setelah film ini dibuat dan dirilis akan dibuatkan dua film sekuel lagi yang diadaptasi dari franchise novel Dune karya Frank HerbertTetapi rencana tinggallah rencana. Karena kegagalan film Dune yang pertama maka sang produser dan sutradara batal menggarap film sekuelnya. Bahkan saking menyesalnya telah menyutradarai film ini, sutradara David Lynch enggan berkomentar jika ditanya mengenai film ini dan dia memilih untuk diam. Saya berharap dengan kecanggihan visual efek, CGI, serta desain produksi untuk film di masa kini mampu membangkitkan kembali kemegahan dan spirit yang pernah ada di film ini. Semangat yang dulu pernah bangkit dan patah mudah-mudahan dapat dibangkitkan kembali dengan dibuatnya kembali film Dune ke layar lebar. Apakah film hasil reboot/remake ini akan bisa meraup untung dan mencapai ekspektasi para pecinta film fiksi ilmiah dan para pembaca novelnya? Kita lihat saja nanti. ๐Ÿ˜Š

Trailer:






Oleh Riko Wahyudi, 14 Mei 2019



Senin, 22 April 2019

Review Film The Neon Demon


Menelanjangi Dunia Modeling dalam Film The Neon Demon

Perempuan atau gadis remaja mana yang tidak ingin menjadi seorang model sukses dan terkenal. Banyak yang terobsesi untuk menjadi seorang model karena itu adalah impian mereka. Walaupun begitu dunia modeling kerap dipandang sebelah mata karena dunia tersebut hanya mementingkan fisik dan penampilan semata dan lebih menonjolkan sisi glamor dan hedonisme. Tetapi juga tidak sedikit orang yang tertarik dan berlomba-lomba untuk masuk ke dunia tersebut dan berkiprah di dalamnya. Kali ini saya akan mereview sebuah film horor yang berlatar dunia modeling berjudul The Neon Demon. Film ini dibuat oleh Space Rocket Nation dan Vendian Entertainment serta diedarkan oleh Amazon Studios. Film yang dirilis pada tahun 2016 silam ini disutradarai oleh sutradara asal Denmark, Nicolas Winding Refn, yang sebelumnya juga menyutradarai film Valhalla Rising dan Drive.

Related image

Cerita di film ini berkisah mengenai seorang gadis remaja sebatang kara berumur 16 tahun bernama Jesse, yang diperankan oleh aktris muda berbakat Elle Fanning, yang juga membintangi film Maleficent dan Mary Shelley. Dia baru saja datang di kota Los Angeles dari sebuah kota kecil di negara bagian Georgia untuk mengadu nasib sebagai model. Dia tinggal di sebuah motel di kawasan Pasadena yang dijaga oleh manajer motel bernama Hank yang dibintangi oleh aktor Hollywood papan atas Keanu Reeves, yang juga sukses membintangi trilogi film The Matrix dan John Wick. Jesse dibantu oleh pacarnya yang juga seorang fotografer muda bernama Dean, yang diperankan oleh Karl Glusman, dalam membuat portofolio untuk keperluan melamar ke agensi-agensi model. Setelah pemotretan berlangsung, Jesse berkenalan dengan seorang perias wajah bernama Ruby, yang diperankan oleh aktris Jena Malone, yang sebelumnya juga tampil dalam film Sucker Punch dan The Hunger Games: Catching Fire.

Related image

Ruby mengajak Jesse untuk datang ke sebuah pesta dan mengenalkannya dengan dua orang model senior yaitu Sarah dan Gigi. Sarah diperankan oleh model asal Australia, Abbey Lee, yang juga tampil dalam film Mad Max: Fury Road dan The Dark Tower, dan Gigi diperankan oleh aktris Australia Bella Heathcote, yang juga tampil dalam film Fifty Shades Darker. Ruby, Sarah, dan Gigi adalah tiga orang sahabat. Sarah dan Gigi sangat iri dengan kecantikan yang dimiliki oleh Jesse dan Ruby merasa bahwa Jesse memiliki ‘sesuatu’ yang menjadikan dirinya cantik dan istimewa. Gigi juga bercerita bahwa dia melakukan operasi plastik untuk membuat dirinya terlihat cantik sebagai upaya untuk bertahan di dunia modeling. Keesokan harinya datanglah Jesse ke sebuah agensi model terkenal untuk melakukan interview dengan Roberta Hoffman, yang juga merupakan pemilik agensi model tersebut, yang diperankan oleh aktris Christina Hendricks. Dia memuji Jesse dan meminta Jesse untuk berbohong mengenai usianya jika ada yang bertanya serta menyuruhnya untuk melakukan pemotretan dengan fotografer terkenal bernama Jack, yang diperankan oleh Desmond HarringtonKetika melakukan pemotretan dengan Jack, Jesse bertemu kembali dengan Ruby. Ruby mengatakan bahwa dia siap membantu Jesse kapanpun.

Seketika, karir Jesse melesat dengan cepat. Roberto Sarno, seorang perancang busana terkenal yang diperankan oleh aktor Alessandro Nivola, yang juga tampil dalam film Coco Before Chanel dan You Were Never Really Here, langsung memilih Jesse sebagai model untuk peragaan busanannya dalam sebuah audisi dan akhirnya Jesse bisa melenggang di runway peragaan busana perancang terkenal tersebut sebagai model penutup pagelaran. Karena merasa disaingi oleh seorang model muda yang belum berpengalaman dan juga dihantui oleh rasa takut karena usia mereka yang sudah tidak muda lagi, Sarah dan Gigi semakin iri terhadap karir Jesse yang melesat dengan cepat karena justru Jesse lah yang mendapat perhatian dari fotografer dan perancang busana terkenal. Jesse semakin besar kepala dan sombong dengan karirnya yang melesat dengan cepat, dia merasa bahwa model-model lain ingin menjadi seperti dirinya. Bagaimanakah kisah Jesse selanjutnya di dunia modeling? Mampukah Sarah dan Gigi bertahan di dunia modeling yang penuh dengan kompetisi? Apa rahasia kecantikan Sarah dan Gigi (serta Ruby) sehingga bisa bersaing dengan model-model muda? Siapakah Ruby, Sarah, dan Gigi sebenarnya? Silakan menonton filmnya sampai selesai dan kamu pasti akan terkejut saat mengetahui jawabannya!
Image result for the neon demon


Menonton film The Neon Demon bagaikan menonton sebuah hasil karya seni kontemporer dalam bentuk audio visual. Sutradara Nicolas Winding Refn menyutradarai film ini dengan sangat indahnya seperti juga pada film-film lain yang pernah disutradarainya. Dia bukan hanya seorang sutradara tetapi juga seorang seniman. Sinematografi yang begitu memukau dapat kita lihat di film ini. Sang sutradara lebih dominan bermain dengan warna-warna cerah seperti warna merah, biru, dan ungu. Permainan warna yang kontras dan vivid serta intens menjadikan film ini bagaikan instalasi seni visual yang diperlihatkan kepada kita. Mungkin film ini tidak cocok ditonton oleh penderita epilepsi mengingat pada beberapa adegan diperlihatkan kilatan/kedipan cahaya yang sangat intens. Visualisasi yang sangat sempurna dari setiap adegan juga dapat kita lihat di film ini, sehingga para tokoh di film ini tidak perlu banyak melakukan dialog lagi. Walaupun banyak adegan sensual yang mengumbar keindahan dan lekuk tubuh di film ini, tetapi itu semua sesuai dengan tema film ini yaitu dunia modeling yang hanya mementingkan penampilan fisik belaka. Yang menarik juga adalah penggambaran adegan kekerasan yang tidak divisualisasikan secara langsung atau dengan kata lain dilakukan secara tersirat tetapi mampu membuat saya merasa merinding dan sedikit mual. Saya cukup terkejut saat mengetahui bahwa Nicolas Winding Refn adalah seorang yang buta warna serta menderita disleksia dan hal tersebut yang akhirnya membuat saya lebih mengagumi sang sutradara.




Audio, musik, suara, dan soundtrack yang digunakan di film ini juga bagaikan suatu karya seni modern yang diciptakan khusus untuk film ini. Kita sebagai penonton bagaikan dibawa ke alam lain. Lagu Waving Goodbye yang dibawakan oleh penyanyi Sia juga sangat cocok untuk soundtrack film ini. Credits title di film ini menjadi sangat indah ketika diiringi lagu tersebut dan mungkin menjadi credit title yang paling bagus dan paling indah di antara film-film Hollywood lainnya. Nuansa artistik sangat kental di film ini berkat audio dan visual yang indah. Sang sutradara berhasil bereksperimen dengan audio visual di film ini dengan sangat sempurna dan audio visual tersebut pun juga selaras dengan nuansa dan tema yang ada di film ini, yaitu dunia modeling dan fashion.

Image result for the neon demon

Kita juga bisa melihat dan merasakan di film ini bahwa segala sesuatunya tidak seperti yang kita lihat dari luar dan ini terkait dengan karakter dan penokohan serta visualisasi di film ini. Dapat kita lihat bahwa tokoh utama Jesse memiliki round character. Di awal cerita Jesse adalah seorang remaja yang lugu dan baik yang berubah seketika menjadi seorang yang sombong dan besar kepala seiring dengan karirnya yang menanjak. Tokoh Ruby juga diperlihatkan begitu perhatian terhadap tokoh Jesse di awal film dan ternyata berubah menjadi obsesi dan bahkan menjadi sangat mengerikan seiring dengan berjalannya alur cerita. Berikutnya ada juga tokoh pacar Jesse, Dean, yang divisualisasikan sebagai tokoh dengan raut wajah yang dingin dan terkesan jahat pada awal kemunculannya di film ini tetapi ternyata Dean adalah tokoh yang baik terhadap tokoh Jesse. Pada mulanya saya mengira Dean adalah tokoh antagonis di film ini dan ternyata dugaan saya salah. Kemudian ada juga tokoh fotografer Jack. Dia digambarkan memiliki raut wajah yang tidak ramah dan terkesan dingin. Dia digambarkan memanfaatkan dan memperlakukan Jesse sebagai objek pada adegan sesi pemotretan. Kita mungkin akan menganggap tokoh Jack sebagai predator yang mengambil keuntungan dari model-model muda yang masih lugu.

Akting dan penghayatan para pemain di film ini terlihat datar dan tidak ada yang menonjol. Mungkin dikarenakan naskah film yang terkesan biasa saja dan kurang menonjolkan ekspresi para pemainnya. Karena seperti yang saya sebutkan sebelumnya film ini ingin menunjukkan bahwa segala sesuatunya tidak seperti yang kita lihat dan dunia modeling itu hanya indah dari luarnya saja tetapi kosong, dangkal, jahat, dan kejam di dalamnya. Walaupun begitu akting Elle Fanning yang memerankan tokoh Jesse patut kita hargai karena aktingnya merupakan reaksi yang natural sebagai seorang remaja yang baru terjun ke dunia modeling di awal cerita film ini. Jena Malone yang memerankan tokoh Ruby juga patut kita acungi jempol karena berakting dengan berani di film ini. Akting Keanu Reeves yang berperan sebagai Hank juga bisa dibilang lumayan sebagai aktor yang memerankan tokoh berkarakter antagonis walaupun hanya muncul sebentar di film ini.



Reaksi beragam muncul terkait film ini, ada yang memuji dan ada yang mengkritiknya. Film ini dikritik karena terkesan hambar, tanpa makna, penuh dengan kepalsuan, dan terkesan memaksakan beberapa adegan untuk dimasukkan ke dalam cerita. Tetapi film ini juga dipuji karena audio visualnya yang memukau. Sutradara Nocolas Winding Refn sering berkomentar bahwa dia tidak membuat film untuk membuat penonton senang atau demi meraih rating tetapi dia membuat film untuk dikomentari oleh khalayak ramai, baik itu komentar positif atau negatif. Saya pribadi tidak memandang negatif dunia modeling dan saya menganggap The Neon Demon adalah film yang bagus dari segi audio visual yang dengan gamblang menggambarkan dunia modeling secara satir atau sarkasme dan film ini merupakan suatu mahakarya dari sang sutradara untuk kita para penontonnya.

Trailer:





Oleh Riko Wahyudi, 22 April 2019

Kamis, 04 April 2019

Review Film Starship Troopers





Berperang Melawan Serangga dalam Film Starship Troopers

Jika ada yang bertanya kepada saya, film tahun 1990-an apa yang paling berkesan? Sebagai pecinta film fiksi ilmiah atau sci-fi saya akan menjawab film yang berkesan adalah Starship Troopers. Ya, lagi-lagi film sci-fi akan dibahas kali ini. Bagi kalian generasi tahun 1990-an pasti mengetahui film epik ini. Film ini dibesut oleh sutradara terkenal asal Belanda, Paul Verhoeven, yang sebelumnya juga menyutradarai film seperti Total Recall dan Basic Instinct. Film ini diproduksi oleh Touchstone Pictures dan diedarkan oleh TriStar Pictures dan Buena Vista International. Film yang dirilis pada tahun 1997 ini diadaptasi dari sebuah novel yang berjudul sama karya Robert A. Heinlein.



Image result for starship troopers movie poster 1997

Film ini mengisahkan perjalanan tiga sahabat selepas mereka lulus sekolah SMU sampai dengan menjadi taruna militer dan berperang melawan mahluk asing. Mereka adalah John ‘Johny’ D. Rico, yang diperankan oleh aktor Casper Van Dien, yang juga membintangi film Tarzan and the Lost City dan Sleepy Hollow; Carmen Ibanez, yang diperankan oleh aktris Denise Richards, yang juga membintangi film Wild Things dan Undercover Brother; dan Carl Jenkins, yang diperankan oleh aktor Neil Patrick Harris, yang juga membintangi film Gone Girl dan menjadi cameo di film Harold & Kumar Go to White Castle dan Escape from Guantanamo Bay. Johny dan Carmen adalah sepasang kekasih dan Carl adalah sahabat mereka yang bersekolah di sekolah yang sama. Kemudian juga ada Dizzy Flores, yang dibintangi oleh aktris Dina Meyer, yang juga tampil dalam film Saw. Dia berperan sebagai teman sekelas mereka dan juga secara terang-terangan menyukai Johny walaupun Johny sudah memiliki pacar, yaitu Carmen. Juga ada sang guru, Jean Rasczak, yang diperankan oleh aktor Michael Ironside, yang juga bermain dalam film Top Gun dan The Machinist.

Dikisahkan pada abad ke-24 di masa depan, dunia diperintah oleh The Global Federation of Earth secara militeristik. Manusia sedang dalam keadaan berperang dengan mahluk asing berbentuk serangga yang disebut Bugs atau Arachnids dari tata surya Arachnid di ujung galaksi Bimasakti, tepatnya dari planet bernama Klendathu. Karena keadaan ini maka tatanan masyarakat dibagi menjadi dua; warga sipil (civilians) dan warga negara (citizens). Status citizens lebih tinggi dan memiliki hak yang lebih daripada civilians. Untuk mendapatkan status sebagai citizens, mereka harus masuk ke dalam militer dan berperang melawan para serangga untuk mendapatkan status tersebut. Carmen dan Carl mendaftar untuk menjadi kadet militer. Karena tidak ingin berpisah dengan Carmen, Johny pun ikut mendaftar walaupun bertentangan dengan kehendak orangtuanya yang menginginkannya untuk meneruskan kuliah di universitas. Karena nilai yang diperoleh Johny rendah, maka dia hanya bisa masuk ke Mobile Infantry (semacam pasukan infanteri darat), sedangkan Carmen lolos masuk ke sekolah pilot dan Carl lolos masuk ke sekolah intelejen militer. Ternyata Dizzy juga ikut mendaftar dan masuk ke Mobile Infantry bersama dengan Johny.

Related image

Di sekolah pilot, Carmen bertemu dengan Zander Barcalow, yang diperankan oleh Patrick Muldoon, dan akhirnya mereka saling menyukai. Dizzy pun juga semakin berani mendekati Johny di Mobile Infantry. Ketika dalam pelatihan militer, Johny dikeluarkan dan dihukum cambuk karena mengakibatkan tewasnya salah seorang rekannya ketika melakukan latihan militer. Nasib pun berubah seketika, ketika sebuah asteroid jatuh ke bumi menghantam kota kelahiran Johny, Buenos Aires, Argentina dan menewaskan jutaan orang termasuk orangtua Johny. Asteroid tersebut dikirim oleh mahluk serangga dari sistem bintang Arachnid. Johny pun bergabung kembali dengan militer untuk selanjutnya berperang melawan mahluk serangga. Johny dan pasukan Mobile Infantry diterjunkan ke planet Klendathu untuk menumpas para mahluk serangga. Tetapi mereka justru dikalahkan oleh mahluk tersebut dengan korban tewas di pihak Mobile Infantry mencapai ratusan ribu jiwa. Mahluk yang disebut Bugs ini ternyata banyak jenisnya, mulai dari serangga tentara sampai dengan serangga yang dapat mengeluarkan plasma untuk menjatuhkan/menghancurkan pesawat militer yang dikirim manusia ke planet tersebut. Sisa pasukan yang selamat ditarik kembali menuju stasiun luar angkasa terdekat. Di sana Carmen melihat nama Johny ada di antara daftar prajurit yang tewas. Para ilmuwan federasi beranggapan bahwa pasti ada serangga ‘pintar’ yang berperan sebagai pemimpin di planet Klendathu dan planet-planet sekitarnya karena mereka mampu mengirim asteroid ke bumi dari jauh dan juga mampu mengalahkan pasukan militer manusia yang menyerang mereka. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Mampukah manusia mengalahkan mahluk serangga tersebut? Apakah sampai di situ akhir kisah Johny? Bagaimanakah nasib Carmen dan Carl? Silakan kamu menonton filmnya atau membaca novelnya.

Sutradara Paul Verhoeven menyutradarai film ini dengan ciamik. Tim yang menangani spesial efek dan CGI film ini juga patut diacungi jempol. Spesial efek dan CGI di film ini akan terlihat kurang nyata jika kita bandingkan dengan film-film sci-fi saat ini, tetapi spesial efek dan CGI di film ini begitu memukau dan sangat maju untuk zamannya, yaitu tahun 1990-an. Penggambaran mahluk serangga dengan berbagai jenisnya cukup membuat kita merasa takut dan jijik. Walaupun masih terlihat belum 'halus' dan masih ‘kasar’, tetapi penggambaran pesawat/kapal luar angkasa, stasiun luar angkasa, mahluk-mahluk serangga, dan planet-planet di film ini bisa dibilang lumayan bagus. Kemudian bagi kamu yang tidak tahan melihat banyaknya darah dan adegan-adegan kekerasan, sebaiknya tidak menonton film ini. Darah dan potongan-potongan tubuh manusia ‘menghiasi’ pemandangan di film ini. Mahluk-mahluk serangga dengan mudahnya ‘menyobek’ tubuh pasukan militer yang menyerbu mereka. Kamu pasti akan merasa ngilu dan mual. Film ini cukup sadis dan penuh dengan kekerasan!

Related image

Saya akan membahas cerita bagaimana pasukan Mobile Infantry dengan telak dikalahkan oleh mahluk-mahluk serangga di planet Klendathu pada serangan pertama dari sudut pandang saya. Penyerbuan tersebut membuktikan kurang matangnya persiapan dari federasi dan betapa memandang rendahnya manusia/federasi terhadap mahluk serangga dalam film ini. Jika ingin mengetahui kekuatan lawan, seharusnya pasukan militer federasi bisa mengirimkan pengintai nirawak terlebih dahulu, barulah kemudian mengirimkan drone untuk mengalahkan mahluk serangga tersebut, bukan pasukan militer manusia.

Cerita dasar di film ini bisa dibilang biasa saja, seperti pada film-film percintaan remaja pada umumnya. Sepasang kekasih yang harus berpisah karena masuk ke sekolah yang berbeda dan kemudian menemukan cinta baru di sekolah tersebut. Yang menjadikannya spesial adalah latar cerita tersebut berlangsung. Ya, dengan latar perang antar bintang dengan mahluk asing, menjadikan film ini menarik untuk disimak. Karakter dan penokohan di film ini bisa dibilang biasa saja, bahkan terkesan klise. Tokoh Johny dan Carmen yang digambarkan sebagai idola remaja di sekolahnya, baik semasa di SMU maupun ketika di sekolah militer. Johny dikenal sangat berbakat di bidang olahraga dan Carmen adalah gadis yang cantik dan berbakat. Mereka digambarkan sebagai pasangan serasi dan banyak yang iri terhadap mereka, salah satunya yaitu tokoh Dizzy, yang digambarkan sebagai tokoh yang tanpa malu ‘mengejar’ tokoh Johny. Tokoh Carl yang digambarkan sebagai kutu buku yang secara fisik kurang menarik tetapi memiliki kemampuan telepati. Kemudian tokoh Rasczak yang digambarkan sebagai guru dan seorang letnan pemimpin pasukan militer yang tegas. Akting para aktor dan aktris di film ini juga bisa dibilang biasa saja dan kurang menonjol.

Related image

Novel Starship Troopers kerap dituding sebagai propaganda militer yang mengagungkan paham fasisme. Nuansa militerisme yang kental juga dapat kita lihat dengan jelas di filmnya. Mulai dari pelatihan militer yang keras, hingga dimunculkannya video-video propaganda militer dapat kita lihat di film ini. Kemudian juga penggambaran citizens yang digambarkan sebagai kaum yang patriotik dan bukan pengecut seperti yang digambarkan untuk para civilians. Para penguasa dan pemimpin federasi di film ini mampu membangkitkan semangat militerisme di kalangan anak muda dengan menciptakan ‘musuh’ yang membahayakan umat manusia, yaitu serangga, untuk memuluskan keinginan mereka menguasai galaksi. Tidak ada demokrasi dan kepentingan individu yang digambarkan/dimunculkan di film ini, semua berdasarkan perintah militer. Tetapi sang penulis naskah, Edward Neumeier, dan sang sutradara, Paul Verhoeven, mampu mengubah nuansa yang ditampilkan dalam film ini menjadi semacam satire dan sarkasme dan bahkan seperti mengolok-olok paham militerisme dan fasisme.

Trailer:





Oleh Riko Wahyudi, 4 April 2019

Senin, 25 Maret 2019

Review Film Pitch Black

Asal Mula Kisah Riddick dalam Film Pitch Black

Halo semuanya, jumpa lagi! Setelah lama tidak menulis review film, akhirnya saya sekarang menyempatkan diri untuk membuat review film lagi. Kali ini film yang akan direview adalah film science fiction (sci-fi) thriller atau sci-fi horor berjudul Pitch Black. Film yang diproduksi oleh PolyGram Filmed Entertainment (yang kemudian merger dengan Universal Pictures) dan Interscope Communications pada tahun 2000 silam ini disutradarai oleh David Twohy. Mungkin kita semua banyak yang tahu mengenai tokoh Riddick dalam franchise film The Chronicles of Riddick yang dirilis tahun 2004 dan film Riddick yang dirilis tahun 2013 silam. Tetapi banyak yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya film-film tersebut adalah sequel dari sebuah film yang menceritakan tokoh Riddick. Film Pitch Black adalah film pertama yang mengisahkan karakter terkenal tersebut dan yang melejitkan nama aktor terkenal asal Amerika, Vin Diesel, yang tampil juga dalam film The Fast and the Furious dan xXx. Dia berperan sebagai tokoh utama, Richard B. Riddick, seorang buronan yang diburu oleh banyak pemburu bayaran.

Image result for pitch black movie poster

Dikisahkan di masa depan pada saat perjalanan antar bintang sudah menjadi kenyataan, sebuah pesawat komersil luar angkasa Hunter-Gratzner yang mengangkut 40 orang penumpang beserta awaknya terbang mengarungi ruang angkasa menuju New Mecca. Karena perjalanan yang sangat jauh dan memakan waktu lama, maka para penumpang dan awak ditidurkan di dalam mesin kriogenik (mesin pendingin), kecuali seorang tahanan bernama Riddick yang sengaja tidak ditidurkan dalam perjalanan ini. Di tengah perjalanan, pesawat tersebut dihantam oleh hujan meteorit berukuran kecil sehingga mengakibatkan pesawat tersebut berada dalam keadaan darurat dan sang kapten tewas karena kejadian tersebut. Sang pilot pesawat, Carolyn Fry, dan navigator, Greg Owens, berusaha mengendalikan pesawat. Tanpa sempat mereka sadari, ternyata ada sebuah planet besar di dekat mereka dan pesawat mereka tertarik oleh gravitasi planet tersebut sehingga pesawat Hunter-Gratzner jatuh tak terkendali dengan kecepatan tinggi ke permukaan planet tersebut.

Related imageHanya 11 orang yang selamat dari kejadian ini: Sang pilot, Carolyn Fry, yang diperankan oleh aktris Australia, Radha Mitchel, yang juga membintangi film Silent Hill dan Surrogates; seorang pemburu bayaran, William J. Johns, yang diperankan oleh Cole Hauser, yang juga membintangi film The Cave; 4 orang jemaah haji yang terdiri dari seorang ‘Imam’ bernama Abu Al-Walid, yang diperankan oleh Keith David, yang juga membintangi film Cloud Atlas, beserta 3 orang anaknya yaitu Ali, Hassan, dan Suleiman. Kemudian juga ada Paris P. Ogilvie, seorang penjual barang antik yang diperankan oleh aktor Australia, Lewis Fitz-Gerald; Jack, seorang remaja yang lari dari orangtuanya, yang diperankan oleh model asal Australia, Rhiana Griffith; sepasang penduduk New Mecca, John ‘Zake’ Ezekiel dan Sharon ‘Shazza’ Montgomery, yang diperankan oleh aktris Australia, Claudia Black; dan tentu saja Richard B. Riddick, seorang tahanan yang sejak lama menjadi buronan dan akhirnya ditangkap oleh William J. Johns.  Tetapi mengapa banyak aktor dan aktris Australia yang bermain di film ini? Mungkin ada hubungannya dengan lokasi syuting film ini yang berada di Australia.

Mereka terdampar di planet gurun yang tandus dengan 3 matahari! Dua matahari berwarna kuning/oranye dan satu matahari berwarna biru. Setelah keluar dari reruntuhan pesawat, mereka pergi berjalan untuk mencari air. Johns mengingatkan bahwa mereka semua harus berhati-hati dengan Riddick karena dia adalah tahanan yang sangat berbahaya dan bisa saja membunuh mereka semua. Setelah berjalan beberapa jauh mereka menemukan pemukiman manusia yang sudah lama ditinggalkan beserta sebuah pesawat angkasa yang kosong. Ternyata pernah ada sekelompok geologis di planet tersebut. Setelah mempelajari model tata surya yang ada di dalam sebuah bangunan yang terbengkalai, mereka menyadari bahwa matahari tidak pernah terbenam selama 22 tahun di planet tersebut. Mereka juga mengetahui bahwa ternyata setiap 22 tahun sekali terjadi gerhana matahari total di planet tersebut karena semua planet dan ketiga matahari dalam tata surya tempat mereka terdampar dalam keadaan sejajar dan gerhana matahari tersebut berlangsung sangat lama.

Related image

Tanpa mereka ketahui sebelumnya, planet tempat mereka berada sekarang ternyata juga dihuni oleh mahluk yang sangat buas. Mahluk tersebut tinggal di tempat yang gelap di gua-gua di bawah tanah. Singkat cerita, Zake dan Ali tewas dimangsa oleh mahluk tersebut ketika mereka berada di tempat yang gelap. Riddick berkata bahwa para geologis yang sebelumnya menghuni planet tersebut semuanya tewas dimangsa oleh mahluk buas pada saat gerhana matahari total 22 tahun yang lalu. Tidak lama kemudian gerhana matahari pun mulai nampak dan mahluk-mahluk buas tersebut keluar ke permukaan dan berterbangan mencari mangsa ketika keadaan mulai gelap. Sontak, mereka semua lari tunggang-langgang menuju reruntuhan pesawat yang mereka tumpangi sebelumnya. Keadaan gelap ini justru menguntungkan bagi Riddick karena dia memiliki pengelihatan yang sangat peka terhadap cahaya dan dapat melihat dengan normal tanpa bantuan alat apapun dalam keadaan gelap gulita. Shazza tewas oleh mahluk-mahluk tersebut ketika tengah berjuang menuju reruntuhan pesawat. Seketika keadaan sudah menjadi gelap gulita dan mahluk-mahluk tersebut dalam keadaan lapar! Mampukah para penyintas lainnya menyelamatkan diri dari ancaman mahluk-mahluk buas di planet tersebut? Bagaimanakan kisah perjuangan mereka? Siapa saja kah yang akhirnya selamat sampai dengan akhir film? Untuk mengetahuinya silakan kamu menonton filmnya.

Sudah banyak tema cerita film sci-fi horor sejenis yang dibuat sebelumnya. Sebut saja film Alien yang menceritakan sekelompok awak pesawat ruang angkasa yang diteror oleh mahluk buas setelah mereka mendarat di sebuah planet asing. Meskipun tema cerita Pitch Black mirip dengan film tersebut, tetapi sang sutradara mampu membuat film ini menjadi berbeda dengan film-film sci-fi bertema serupa. Ekstrimnya keadaan di planet tempat para penyintas berada digambarkan dengan sangat kontras. Kita dapat melihat keadaan siang hari yang terang dan panas karena ada tiga matahari yang bersinar, seketika menjadi gelap gulita karena gerhana matahari total. Kemudian bentuk dari mahluk buas penghuni planet di film ini juga dapat membuat kita ketakutan jika melihatnya. Ya, mahluk buas di film ini disebut Bioraptors. Mahluk tersebut sangat peka terhadap cahaya, mempunyai dua kaki yang berkuku tajam, memiliki sayap, memiliki ekor yang bercabang dan tajam, bergigi runcing, tidak memiliki mata, dan memiliki kemampuan ekolokasi untuk melihat (seperti pada hewan kelelawar).

Related image

Desain eksterior pesawat ruang angkasa Hunter-Gratzner bisa dibilang oke, meskipun bukan yang terbagus jika dibandingkan dengan film-film sci-fi lainnya yang berbiaya tinggi. Dengan bentuk yang panjang dan bagian-bagian yang dapat dilepaskan dengan kendali pilot, menjadikan pesawat tersebut dapat berukuran sangat kompak dan menjadi lebih ringan. Pesawat tersebut juga memiliki rem udara (yang dalam dunia penerbangan disebut dengan spoiler) yang berfungsi untuk menahan laju pesawat dalam kecepatan rendah. Walaupun pada kenyataannya di film ini fitur tersebut gagal beroperasi dan rem udara tersebut terlepas dikarenakan laju pesawat yang sangat kencang. Meskipun desain eksterior pesawat tersebut bisa dibilang lumayan untuk sebuah film sci-fi, tetapi desain interior pesawat ini bisa dibilang seadanya dan terkesan kuno dan tidak sesuai untuk setting film ini yaitu di masa depan. Ruang kriogenik yang lebih menyerupai lemari, serta tombol-tombol di ruang kendali pilot yang terkesan ‘jadul’ untuk zamannya. Jika kita teliti, kita juga bisa melihat banyak selang yang ada di ruang kokpit pesawat lebih menyerupai selang AC atau selang mesin cuci yang terkesan hanya ditempel begitu saja oleh kru film. Kemudian peralatan yang ditinggalkan oleh tim geologi yang sebelumnya tinggal di planet di film ini juga tidak ada yang modern dan terkesan kurang futuristik. Bisa dilihat bahwa sang sutradara kurang memerhatikan detil desain produksi di film ini sehingga film ini terkesan seperti film kelas B (B movie).

Karakter dan penokohan di film ini sangat menarik. Sebagian besar tokoh utama di fim ini memiliki round character. Jika kita lihat secara keseluruhan dari awal sampai dengan akhir film, ada perubahan di hampir setiap karakter pada tokoh utama di film ini. Perubahan dari seorang yang berpikiran egois yang hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri dan kemudian berubah menjadi seorang yang rela berkorban demi orang lain dapat kita lihat pada karakter tokoh sang pilot, Carolyn Fry. Perubahan dari seorang anti-hero yang sangat berbahaya dan kemudian berubah menjadi penyelamat dapat kita lihat pada karakter tokoh Richard B.Riddick. Perubahan dari seorang yang terlihat baik dan dianggap sebagai pelindung dan ternyata adalah seorang yang egois dan penuh dengan kepalsuan dapat kita lihat dari karakter tokoh pemburu bayaran, William J. Johns. Perubahan dari seorang yang terlihat kuat tetapi ternyata adalah seorang yang berbeda dengan apa yang kita lihat secara fisik dapat kita lihat dari penokohan remaja, Jack. Bahkan menurut saya, planet tempat para tokoh tersebut terdampar pun juga merupakan sebuah karakter tersendiri yang dapat berubah dengan drastisnya. Dari keadaan panas, kering, dan terang benderang, seketika menjadi gelap gulita. Tidak ada yang tetap atau stagnan di film ini, semua berubah. Apakah ini memang disengaja oleh sang sutradara? Ataukah tidak disengaja? Yang pasti karakter dan penokohan yang ada di film ini juga ditunjang dengan akting para aktor dan aktris yang prima. Akting Vin Diesel dan Radha Mitchell bisa dibilang cukup baik dan maksimal.

Related imageCukup disayangkan bahwa film-film sequel Pitch Black ini bisa dibilang kurang sukses dan kurang bagus dari berbagai segi. Mulai dari cerita, penokohan, karakter, akting para pemain filmnya, spesial efek, CGI, dan juga keuntungan yang didapat dari film-film tersebut tidak memenuhi target audiens dan kritikus.  Saya rasa memang benar adanya bahwa film sequel, triquel, atau apapun namanya terkadang tidak sebagus film pertamanya.


Trailer:




Oleh Riko Wahyudi, 25 Maret 2019

2014 © Movieism
Designed By Templateism | Templatelib