Cari Blog Ini

Site Links

About

Featured Posts

Featured Posts

Featured Posts

Site Links

Rabu, 19 Desember 2018

Review Film Nocturnal Animals


Cerita di Dalam Cerita dalam Film Nocturnal Animals


Bagi yang menyukai film bergenre drama thriller film berikut ini mungkin patut kamu perhitungkan untuk ditonton. Ya, film dengan judul Nocturnal Animals telah dirilis pada tahun 2016 oleh rumah produksi Focus Features dan Fade to Black Productions. Film ini diangkat dari sebuah buku/novel berjudul Tony and Susan karya Austin Wright. Film ini disutradarai oleh perancang busana terkenal Tom Ford. Ini adalah film kedua Tom Ford setelah sebelumnya menyutradarai film A Single Man.

Image result for nocturnal animals movie

Cerita di film ini bermula ketika karakter tokoh utama, Susan Morrow, yang dibintangi oleh aktris kenamaan Amy Adams (yang sukses membintangi film seperti Enchanted dan Arrival) menerima sebuah naskah cerita yang berjudul Nocturnal Animals dari mantan suaminya, Edward Sheffield, seorang penulis buku, yang diperankan oleh aktor kenamaan Hollywood, Jake Gyllenhaal (yang tampil prima di film Donnie Darko dan Nightcrawler). Susan adalah seorang pemilik galeri seni yang mapan dan sukses di Los Angeles masa kini. Dia tinggal dengan suami keduanya yaitu Hutton Morrow, yang diperankan oleh Armie Hammer, yang sebelumnya tampil di film Mirror Mirror dan The Man from U.N.C.L.E. Pernikahan mereka tidak bahagia karena Hutton selalu sibuk bepergian untuk urusan bisnis dan Susan merasa kesepian.

Susan membaca naskah cerita yang diberikan oleh Edward dengan seksama dan serius. Dia larut dengan cerita di dalamnya. Cerita dalam buku tersebut begitu kelam dan penuh dengan kekerasan. Dikisahkan di dalam buku tersebut sebuah keluarga yang bepergian jarak jauh dengan mengendarai sebuah mobil di Texas. Sang ayah, Tony Hastings, diperankan juga oleh Jake Gyllenhaal; sang Ibu, Laura Hastings, diperankan oleh aktris Australia berbakat, Isla Fisher, yang sebelumnya membintangi film Wedding Crashers dan Confessions of a Shopaholic; dan sang anak, India Hastings, diperankan oleh aktris muda berbakat Ellie Bamber.

Related image

Ketika tengah berkendara di malam hari mereka harus bertemu dengan tiga orang jahat yang mengganggu dan akhirnya memisahkan mereka. Pemimpin dari ketiga orang tersebut adalah Ray Marcus, yang diperankan oleh aktor Inggris berbakat Aaron Taylor-Johnson, yang sebelumnya tampil di film Kick Ass, Kick Ass 2, dan Godzilla. Mereka membawa anak dan istri Tony. Tony pun mencari bantuan kepada polisi bernama Bobby Andes yang diperankan oleh Michael Shannon, yang tampil memukau di film Man of Steel dan The Shape of Water. Apakah Tony dapat menemukan kembali anak dan istrinya? Silakan kamu menonton filmnya atau juga membaca buku/novelnya.

Tersentak dengan isi cerita yang dibacanya, Susan kembali mengingat masa lalunya yang bahagia dengan Edward pada saat sebelum mereka berpisah. Apa yang telah diperbuat oleh Susan terhadap Edward sehingga mereka akhirnya berpisah? Untuk mengetahuinya, silakan kamu menonton filmnya atau membaca buku/novelnya. Rasa penyesalan pun akhirnya datang dan Susan kembali bersimpati kepada Edward.

Ada tiga cerita dalam film ini, Susan di masa kini, masa lalu Susan dan Edward yang diceritakan dengan flash back, dan isi cerita dari buku yang ditulis Edward untuk Susan. Cerita di dalam naskah yang diberikan oleh Edward kepada Susan adalah gambaran bagaimana hubungan mereka. Naskah tersebut dibuat oleh Edward untuk menunjukkan secara metaforik apa yang telah diperbuat oleh Susan terhadap pernikahan mereka.


Tom Ford menyutradarai film ini dengan indahnya. Permainan warna terlihat begitu sempurna, semua terlihat kontras dan pejal. Seting dan kostum pun juga ditata dengan apik, mungkin ini dikarenakan Tom Ford adalah seorang fashion desainer, sehingga semua tokoh tampil sesuai dengan karakternya masing-masing dan seting disiapkan dengan begitu matang dan detil. Tetapi ada yang menggangu ketika saya menonton film ini, yaitu pada 5 menit pertama adegan di film ini. Begitu mengganggu dan adegan tersebut sebenarnya tidak perlu dan bisa dengan mudah dibuang dari film ini. Tanpa adegan tersebut film ini tetap bisa berjalan sempurna.

Akting yang sempurna dapat kita lihat pada akting aktor Aaron Taylor-Johnson di fim ini. Dia begitu sukses memerankan seorang psikopat pembunuh berdarah dingin yang senang memperkosa dan membunuh korbannya. Tidak heran penghargaan Golden Globes Awards 2017 untuk pemeran pembantu pria jatuh ke tangannya. Michael Shannon pun tidak kalah memukau berakting di film ini. Dia dengan sempurna memerankan seorang polisi yang membalaskan dendam seorang ayah yang kehilangan keluarganya. Jake Gyllenhaal juga berakting mengesankan di film ini. Sosok seorang ayah dan suami yang tidak berdaya dengan sempurna diperankannya dalam karakter Tony Hastings.

Image result for nocturnal animals movie

Akting Amy Adams di dalam film menurut saya ini kurang begitu memukau, karakter yang diperankannya tidak begitu kuat dan juga karakter tersebut dapat dengan mudah diperankan oleh siapa saja dan kurang meninggalkan kesan bagi penonton. Mungkin ini dikarenakan penokohan yang kurang kuat ditambah dengan naskah yang tidak menunjang tokoh Susan. Yang mengejutkan saya adalah tokoh Laura Hastings ternyata diperankan oleh aktris Isla Fisher. Semula saya mengira tokoh tersebut juga diperankan oleh Amy Adams, tetapi setelah melihat credit title, barulah saya menyadari bahwa tokoh Laura diperankan oleh orang yang berbeda dengan yang memerankan tokoh Susan! Ya, sudah menjadi gurauan publik bahwa Amy Adams dan Isla Fisher sering kali dianggap sebagai satu orang yang sama tetapi pada kenyataannya mereka adalah dua aktris yang berbeda yang kebetulan memiliki wajah yang sangat mirip satu sama lain dan bisa dibilang mereka adalah doppelgรคnger.

Trailer:






Oleh Riko Wahyudi, 19 Desember 2018

MOVIE REVIEW


One of my hobbies is watching movies, especially Hollywood films. The genres I enjoy include science fiction, horror, mystery, thriller, and comedy. However, I’m open to liking other film genres based on my interests.

I watch movies purely for enjoyment, to unwind and relax, rather than for deep analysis. As a result, the reviews I write are not in-depth or detailed; they simply reflect my experience watching the film and avoid spoilers.

I apologize if any of my film reviews inadvertently contain spoilers. My intention is to allow readers who haven’t seen the films I review to enjoy the storyline without being influenced by spoilers.

Feel free to click on the film posters below to read the reviews in Bahasa Indonesia. Enjoy! ๐Ÿ˜Š



Salah satu hobi saya adalah menonton film, terutama film-film Hollywood. Genre film yang saya suka di antaranya adalah fiksi ilmiah, horor, misteri, thriller, dan komedi. Tetapi juga tidak tertutup kemungkinan saya menyukai genre film lainnya sesuai dengan interest saya. 
Saya menonton film hanya untuk kesenangan belaka, untuk melepas kejenuhan dan penat, bukan untuk menganalisa secara mendalam dan serius. Maka dari itu review yang saya buat juga tidak menganalisa secara dalam dan detil, hanya sebatas pengalaman saya saja dalam menonton film tersebut dan juga untuk menghindari spoiler
Mohon maaf jika ada review film yang saya buat mengandung spoiler, karena saya memang tidak berniat memberikan spoiler akhir cerita agar para pembaca yang belum menonton film yang saya review dapat menikmati jalan cerita ketika menonton filnya tanpa harus terkontaminasi dengan spoiler
Silakan klik poster film berikut untuk melihat review dalam Bahasa Indonesia. Selamat menikmati ๐Ÿ˜Š
===================================================================================================



Image result for lavender movie  Image result for the bleeder movie  Image result for call me by your name movie poster  Image result for nocturnal animals movie  Image result for stoker movie poster  Related image

  Image result for starship troopers poster  Image result for the neon demon poster  



   Image result for dune 1984 movie poster The Time Machine (2002)" Theatrical Trailer - YouTube  BRIGHTBURN - 11.5"x17" Original Promo Movie Poster 2019 Superman ...  A.I. Artificial Intelligence 27x40 Original Movie Poster One Sheet Steven  Spielberg at Amazon's Entertainment Collectibles Store


Selasa, 18 Desember 2018

Review Film Call Me By Your Name

Cinta Bersemi di Musim Panas dalam Film Call Me By Your Name


Bagi sebagian orang masa remaja adalah masa-masa yang menyenangkan, penuh dengan gejolak, penuh gairah, masa yang penuh dengan eksplorasi, dan masa di mana kita menemukan cinta pertama. Kali ini saya akan mereview film yang bertemakan cinta antara dua orang manusia yang kebetulan memiliki gender yang sama. Bagi sebagian orang mungkin film berikut ini adalah film yang bertemakan cinta pertama seorang remaja atau istilah dalam bahasa Inggrisnya coming of age love story. Karena sejatinya cinta itu universal dan tidak dibatasi oleh gender, umur, ras, status sosial, dan batasan-batasan lainnya yang dibuat oleh manusia.


Film Call Me By Your Name diangkat dari sebuah novel karya Andrรฉ Aรงiman dengan judul yang sama. Film ini dirilis oleh rumah produksi Sony Pictures Classics pada tahun 2017. Sedangkan sutradara yang membesut film ini adalah sutradara asal Italia, Luca Guadagnino. Bagi kamu yang suka dengan hal-hal romantis dan film bertemakan cinta pertama pasti akan menyukai film ini. Tokoh utama dalam film ini dibintangi oleh Timothรฉe Chalamet, aktor muda berbakat yang tampil sempurna di film Lady Bird dan Beautiful Boy, yang berperan sebagai Elio Perlman dan juga dibintangi oleh Armie Hammer, aktor yang tampil memukau dalam film J. Edgar dan The Lone Ranger, yang berperan sebagai Oliver.

Cerita di film ini berlatar pada musim panas tahun 1983 di kota kecil Crema di Italia bagian utara. Bermula ketika tokoh Oliver datang ke vila musim panas keluarga Perlman untuk membantu ayah Elio, Samuel "Sammy" Perlman (Mr. Perlman), yang diperankan oleh Michael Stuhlbarg, aktor yang tampil ciamik dalam film Men in Black 3 dan Arrival, untuk meneliti reruntuhan arkeologi di dekat kediaman musim panas mereka. Oliver adalah seorang mahasiswa pascasarjana berumur 24 tahun yang berasal dari Amerika Serikat sedangkan Elio adalah seorang remaja berbakat berumur 17 tahun. Walaupun Elio memiliki pacar perempuan bernama Marzia tetapi perasaan suka tumbuh terhadap Oliver, begitupun sebaliknya. Elio yang pada awalnya tidak menyadari sinyal-sinyal cinta dari Oliver menganggap Oliver adalah seorang yang angkuh dan sombong, tetapi akhirnya Elio pun sadar bahwa Oliver juga menaruh hati kepada dirinya.


Bagaimanakah pengalaman Elio dan Oliver bermain cinta selama 6 minggu di kediaman keluarga Perlman? Apakah berakhir dengan indah atau sebaliknya? Bagi kamu yang sudah menonton filmnya sebaiknya juga membaca bukunya karena ending cerita pada filmnya berbeda dengan ending pada bukunya. Kisah di bukunya belum semuanya dituangkan pada film ini, jadi masih ada kemungkinan dibuatkan sekuel untuk fim ini. Kita lihat saja nanti.

Menonton film Call Me By Your Name kita seakan-akan berada langsung di seting film ini. Sutradara Luca Guadagnino patut diacungi jempol, bahkan empat jempol! Mengingat betapa nyata dan indahnya pemandangan sebuah kota kecil di Italia, Crema, di musim panas yang berhasil disuguhkan sang sutradara kepada kita para penonton. Sebagai sutradara, Luca Guadagnino berhasil membuat film ini menjadi sangat indah dan detil. Adegan-adegan ditampilkan dengan sangat cermat untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari yang mungkin tidak akan kita temukan di film lain. Kita dapat merasakan hangatnya Crema di musim panas. Begitu detilnya sehingga suara lalat sering kali dimunculkan oleh sutradara di film ini. Apakah ini merupakan sebuah simbol yang sengaja dimunculkan di film ini? Tentu saja. Tetapi saya tidak akan membahasnya kali ini.



Penokohan dan naskah yang sempurna dari sebuah film ada pada Call Me By Your Name. Menonton film ini seperti melihat adegan nyata, mereka tidak seperti sedang berakting dan sangat natural. Timothรฉe Chalamet, Armie Hammer, dan Amira Casar (berperan sebagai Annella Perlman, ibunda Elio) berakting dengan sangat sempurna. Salut untuk Timothรฉe Chalamet! Aktor muda berumur 21 tahun ini (pada saat syuting film) sangat layak diberi penghargaan. Kredit juga patut diberikan kepada James Ivory, penulis naskah (screenplay), yang telah mengadaptasi sebuah buku/novel menjadi sebuah naskah film yang kuat dan mudah dipahami dan dicerna oleh para aktor dan aktris pemeran film ini sehingga mereka berakting dengan natural tetapi maksimal. Tak heran, penghargaan Academy Awards 2018 untuk penulis naskah adaptasi terbaik jatuh ke tangannya.


Mystery of Love, Visions of Gideon dan Futile Devices adalah tiga buah lagu yang ditulis dan dibawakan oleh Sufjan Stevens untuk film ini. Lagu tersebut sangat cocok menjadi soundtrack film ini. Nuansa romantis dan sendu mengalun bersama lagu tersebut apalagi ketika adegan terakhir diiringi dengan lagu Visions of Gideon, sungguh surreal! Tanpa soundtrack tersebut, Call Me By Your Name bagaikan sayur tanpa garam. Yup, hambar...

Image result for call me by your name

Pertanyaan muncul dalam benak saya. Apakah benar pasangan Perlman adalah gambaran umum orangtua yang membesarkan anak mereka di Italia pada tahun 1980-an? Sudah sebegitu progresif dan terbukakah orangtua di Italia pada waktu itu? Terlebih Italia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Katolik dan sangat menjunjung tinggi budayanya. Kemudian juga di awal tahun 1980-an sedang mewabah penyakit HIV-AIDS yang dikenal sebagai penyakit yang diyakini oleh masyarakat pada saat itu sebagai penyakit kaum LGBTQ yang mematikan dan tidak ada obatnya dan pastinya akan memberikan stigma yang negatif bagi kaum LGBTQ pada waktu itu. Atau mungkinkah pasangan Perlman adalah gambaran ideal dari sang penulis buku/novel terhadap bagaimana cara orangtua membesarkan anak mereka? Mungkin saja demikian. Diceritakan di dalam novel dan filmnya bahwa pasangan Perlman adalah orang yang berpendidikan tinggi. Mereka adalah akademisi di bidangnya. Mr. Perlman adalah seorang profesor, yaitu arkeologi dan budaya dan Annella Perlman adalah seorang penerjemah. Mungkin hal tersebut yang membuat mereka berpikiran terbuka dan progresif. Mereka juga beragama Yahudi dan mereka menguasai beberapa bahasa. 

Sebelum agama Katolik menyebar di Italia, ada budaya yang sudah lebih dahulu berkembang di Italia, yaitu Romawi. Kebudayaan Romawi diadopsi dari kebudayaan Yunani kuno dan kita semua tahu bahwa kebudayaan Yunani kuno dikenal sangat kental dengan homoseksualitas. Hal demikianlah yang dipelajari dan dikuasai oleh pasangan Perlman sebagai akademisi di bidang arkeologi dan budaya yang menjadikan mereka tidak asing lagi dengan homoseksualitas. Kita juga dapat mengetahui alasan mengapa pasangan Perlman bersikap terbuka terhadap orientasi seksual Elio di akhir cerita di film ini ketika Mr. Perlman bercerita mengenai dirinya dan memberikan pandangannya kepada Elio.

Film ini terlalu indah untuk dilewatkan!

Oleh Riko Wahyudi, 18 Desember 2018

Senin, 17 Desember 2018

Review Film The Bleeder

The Bleeder, Film Biopik yang Mengungkap Tragisnya Kisah Chuck Wepner

Image result for chuck the bleeder movie
Sudah banyak film-film tentang kisah petinju yang diputar sebelumnya, mulai dari Cinderella ManMillion Dollar Baby, hingga Ali. Kini kembali hadir sebuah film bergenre drama-biografi seorang petinju besutan sutradara asal Kanada, Philippe Falardeau. Film ini di Indonesia berjudul The Bleeder, tetapi ditayangkan di Amerika Serikat dengan judul Chuck. Film keluaran tahun 2016 ini diproduksi dan diedarkan oleh studio film independen, Millenium Films. Sederet bintang Hollywood turut membintangi filmnya, seperti Liev Schreiber, Ron Perlman, dan Naomi Watts. Bagi kalian pecinta olahraga tinju, film ini pasti menarik untuk disimak.
The Bleeder bercerita tentang kisah hidup seorang petinju kelas berat di tahun 1970-an, Chuck Wepner, diperankan oleh Liev Schreiber, aktor terkenal Hollywood yang pernah membintangi film Scream 2 dan Salt. Diceritakan Chuck hidup bahagia dengan istri dan anak perempuannya di daerah Bayonne, New Jersey, Amerika Serikat. Phyllis Wepner, istri Chuck, diperankan oleh Elizabeth Moss.
Chuck hidup di era kejayaan petinju-petinju terkenal pada masanya, seperti Muhammad Ali dan George Foreman. Dia dijuluki “The Bleeder” karena pukulannya yang menyebabkan lawan-lawannya berdarah. Momentum kejayaannya terjadi di tahun 1975 pada saat mendapat kesempatan melawan Muhammad Ali, yang pada saat itu adalah petinju kelas berat peringkat satu dunia, sedangkan Chuck berada di peringkat delapan dunia.
Dibantu oleh pelatih sekaligus managernya, Al Braverman, yang diperankan oleh Ron Perlman, aktor Hollywood yang terkenal lewat film Hellboy, Chuck berhasil memukul jatuh Muhammad Ali, walaupun pertandingan tersebut pada akhirnya dimenangkan Muhammad Ali setelah melalui 15 ronde. Chuck pun menjadi tenar seketika. Dirinya semakin terkenal setelah pemutaran film The Rocky pada tahun 1976, yang diklaim oleh Chuck berdasarkan kisah hidupnya ketika melawan Muhammad Ali.
Image result for chuck the bleeder movie
Namun setiap kesuksesan dan ketenaran yang datang, selalu juga diikuti oleh bayang-bayang godaan serta dampak buruk yang diakibatkannya. Chuck mulai sering pergi ke pesta-pesta di klub malam dan akhirnya terjerumus ke dalam dunia obat-obatan terlarang. Setelah ketahuan berselingkuh dengan wanita lain, istrinya pun menjauhinya. Hubungan Chuck dengan adik kandungnya pun tidak baik. Chuck juga mendekati seorang bartender bernama Linda, yang diperankan oleh Naomi Watts, aktris Hollywood yang terkenal lewat film The Ring dan King Kong. Chuck akhirnya dipenjara karena obat-obatan terlarang. Dapatkah Chuck meraih kembali apa yang telah terenggut darinya? Bagi yang sudah mengetahui kisah Chuck mungkin tahu jawabannya.
Ketika menonton film ini, kita seolah-olah dibawa ke era tahun 1970-an. Lagu-lagu yang terkenal pada tahun 70-an menjadi soundtrack film ini. Tampilan atau sinematografi film ini pun juga terkesan vintage, ditambah juga dengan kostum yang sesuai dengan latar filmnya. Banyak adegan kekerasan di atas ring tinju. Agak ngilu melihat Chuck yang sudah berdarah wajahnya masih terus melanjutkan pertandingan tinjunya. Tetapi itulah esensi dari film yang mengangkat tema biografi seorang petinju. Maju terus, pantang menyerah, sampai titik darah penghabisan.
Image result for chuck the bleeder movie
Film ini bukan hanya menceritakan kisah kehidupan personal dari seorang petinju kelas berat yang berada di bawah bayang-bayang petinju-petinju terkenal pada era 1970-an, tetapi juga dapat membuat penonton seolah-olah menjadi diri seorang Chuck Wepner! Dengan gaya penceritaan orang pertama, suara pikiran Chuck kerap muncul sebagai narasi dalam film ini. Hal ini pula yang menjadikan kita seolah-olah menyatu dengan karakter Chuck.
Kita sebagai penonton menjadi bersimpati kepada sang karakter utama, karena Chuck sebenarnya adalah pribadi yang baik dan naif yang dengan mudahnya terjerumus ke hal-hal negatif akibat ketenaran yang diperolehnya. Tanpa gaya penceritaan seperti ini, mungkin kita akan melabeli tokoh Chuck Wepner sebagai peran antagonis. Akting dari para pemainnya pun terbilang mumpuni dengan karakter-karakter yang kuat dan menonjol.
The Bleeder tayang di bioskop Indonesia mulai 12 Juli 2017. Penasaran?

Trailer:




Link trailer: https://www.youtube.com/watch?v=0AQXwOOqNNw

Oleh Riko Wahyudi, 13 Juli 2017

Terimakasih kepada Nana Rohanawati yang sudah mengupload review ini ke link berikut:

Review Film Lavender

Menguak Ingatan Masa Lalu di Film Lavender

Di pertengahan April 2017, hadir sebuah film thriller-misteri berjudul Lavender. Film ini diperankan oleh aktris dan aktor yang sudah dikenal di kancah perfilman Hollywood. Walaupun mereka belum menjadi pemain film Hollywood kelas A, tetapi bagi kamu yang doyan menonton film-film Hollywood, pasti pernah melihat akting mereka sebelumnya. Film Lavender dibuat oleh studio independen, South Creek Pictures dan 3 Legged Dog Films dari Kanada serta disutradarai oleh sutradara asal Kanada, Ed Gass-Donnely.
Image result for lavender movie
Film ini mengisahkan seorang fotografer perempuan bernama Jane, diperankan oleh Abbie Cornish, aktris Australia yang dikenal lewat film Sucker Punch dan Robocop. Jane mengalami krisis dalam pernikahan dengan suaminya Alan, diperankan oleh Diego Klattenhoff, aktor Kanada yang dikenal lewat film Pacific Rim. Jane selalu hanyut dalam pekerjaannya sebagai fotografer yang memotret rumah-rumah tua di pedesaan. Sampai pada suatu ketika dia menemukan rumah tua kosong yang menarik perhatiannya untuk dijadikan objek foto. Jane merasa ada yang istimewa tetapi sekaligus mengerikan dengan rumah tersebut.
Jane tidak pernah ingat siapa keluarga kandungnya sebelum dia diadopsi oleh keluarga angkat. Ketika sedang bergegas menjemput anak perempuannya, Alice, Jane mengalami kecelakaan lalu lintas dan mengalami amnesia. Salah satu dokter yang menangani Jane adalah dokter Liam, diperankan oleh Justin Long, aktor Amerika yang dikenal lewat film horor Jeepers Creepers dan Drag Me to Hell. Liam yang berprofesi sebagai dokter ahli jiwa atau psikiater itu pun membantu dan mendorong Jane untuk kembali mengingat masa lalunya. Ingatan Jane terhadap suami dan anaknya kembali pulih. Tetapi dia juga bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, seorang anak kecil berambut pirang yang selalu mengajaknya bermain. Satu demi satu petunjuk mengenai masa lalunya ia dapatkan melalui sekotak kado kecil yang datang tanpa diketahui siapa pengirimnya.
Atas saran dari dokter Liam, Jane pergi menemui satu-satunya keluarga kandung yang dimilikinya, yaitu pamannya, Patrick, diperankan oleh Dermot Mulroney, aktor Amerika yang dikenal lewat film Stoker dan Insidious: Chapter 3. Patrick menceritakan bahwa orangtua dan adik Jane meninggal karena dibunuh di rumah yang menjadi objek foto terakhir Jane tersebut. Hanya Jane satu-satunya yang selamat dari tragedi tersebut, tetapi Jane tetap tidak dapat mengingat kejadian tersebut. Kemudian Jane memutuskan untuk menginap di rumah masa kecilnya itu agar dapat mengingat kembali masa kecilnya.
Image result for lavender movie
Misteri masa lalu akhirnya mulai terkuak setelah Jane beserta suami dan anaknya tinggal di rumah tersebut. Siapakah gadis kecil berambut pirang yang bisa dilihat Jane? Siapakah dokter Liam sebenarnya? Siapakah yang membunuh orang tua dan adik Jane dan apakah yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab di akhir film.
Kengerian di film Lavender dibangun dan dibangkitkan dari musik yang terdengar mengganggu sekaligus bikin efek seram bagi penonton. Tanpa iringan musiknya, kengerian di film ini mungkin akan hilang. Apalagi sinematografi yang dihadirkan sangat  berbeda dengan tipikal film horor atau film-film thriller lainnya. Hampir sebagian besar setting filmnya terjadi di siang hari dengan nuansa cerah dan terang. Hmm, apakah sang sutradara lupa bahwa ia sedang menggarap film thriller-misteri? Atau memang ini trik tersendiri dari sutradara untuk membuat film thriller dengan gaya yang berbeda? Bisa jadi.
Image result for lavender movie
Kelemahan filmnya semakin ditambah dengan akting dari para pemainnya yang bisa dibilang sangat datar. Skenario yang lemah membuat kurangnya penghayatan dari para pemainnya. Sangat disayangkan ya padahal film ini sudah memasang aktor sekelas Dermot Mulroney dan Justin Long yang harusnya bisa menampilkan performanya dengan maksimal.
Di luar segala kelemahan filmnya, film Lavender tetap memberikan alternatif tontonan yang menarik, terutama buat kamu yang gemar menonton film thriller-misteri. Lavender tayang di bioskop Indonesia mulai 19 April 2017.

Trailer:



Oleh Riko Wahyudi, 20 April 2017

Terimakasih kepada Nana Rohanawati yang sudah mengupload review saya ke link berikut:



2014 © Movieism
Designed By Templateism | Templatelib